Share with on:

Pentingnya Menilai Diri Sendiri secara Realistis

vector dot 1
Pentingnya Menilai Diri Sendiri secara Realistis

Oleh: Putu Ayu Diansukma Ramadhani, M.Psi., Psikolog

Setiap orang memiliki penilaian terhadap dirinya sendiri, baik yang konotasinya positif maupun negatif. Penilaian ini disebut sebagai self-esteem. Kualitas diri dapat dipersepsikan sebagai positif dan negatif atas pengaruh value atau nilai-nilai yang penting bagi kita. Misalnya, seseorang yang sangat mementingkan pendidikan mungkin menilai kualitas diri “cerdas”, “bersekolah hingga S3”, dan “fasih berbahasa asing” sebagai hal yang positif. Namun, bagi orang yang value utamanya berbeda, bisa jadi kualitas diri tersebut tidak terlalu signifikan dalam membentuk penilaian terhadap dirinya. Oleh karena itu, kualitas diri yang dapat membangun self-esteem seseorang dapat bervariasi tergantung value orang tersebut. 

Analogi Balon untuk Memahami Konsep Self-Esteem

Untuk memahami self-esteem lebih lanjut, kita analogikan konsep ini dengan balon. Self-esteem yang sehat diibaratkan sebagai balon yang terisi cukup angin. Ia dapat diterbangkan, memantul, dan tampak ajeg. Orang yang memiliki self-esteem sehat biasanya merasa nyaman menjadi diri sendiri, dapat mengenali kelebihan dan kelemahan diri, serta dapat membuat ekspektasi realistis untuk ia capai. Self-esteem terlalu rendah diibaratkan sebagai balon kempes dan belum berguna. Oleh karena itu, orang yang memiliki self-esteem rendah biasanya menilai diri secara negatif serta tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas dengan semangat dan kepercayaan diri. Sementara itu, self-esteem terlalu tinggi diibaratkan sebagai balon yang terlalu diisi banyak angin sehingga terlihat seperti akan segera meletus. Mungkin bagi beberapa orang, menjauhi balon yang diisi terlalu banyak angin merupakan keputusan yang tepat. Orang yang memiliki self-esteem terlalu tinggi akan berusaha keras untuk melindungi balonnya yang dapat meletus kapan saja.

Mengapa Ada Orang yang Kadang Self-Esteem-nya Terlalu Tinggi, Kadang Terlalu Rendah?

Self-esteem yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah menunjukkan bahwa self-esteem yang dimiliki tidak sehat. Ketika kita memiliki self-esteem tidak sehat, ia cenderung tidak stabil. Ada kalanya di mana ia merasa tidak berguna, selalu tertinggal dari orang lain, dan tidak memiliki keahlian apapun, tetapi ada pula kalanya ia merasa lebih superior dari yang lain, frustrasi terhadap kesalahan/kegagalan orang lain, dan merasa mampu mencapai ekspektasi yang terlalu tinggi sebagai kompensasi dari kekurangannya. Oleh sebab itu, yang paling ideal adalah mengembangkan self-esteem yang sehat. 

Self-Esteem yang Tidak Sehat Dapat Memicu Emosi Marah dan Agresivitas

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa self-esteem rendah dapat memicu agresivitas karena menumpuknya rasa frustrasi. Namun jika kita coba kembali membayangkan balon kempes yang merepresentasikan self-esteem rendah, rasanya sulit membayangkan orang dengan energi sesedikit itu untuk meluapkan amarah dan rasa frustrasi hingga menggebu-gebu. Biasanya amarah yang dirasakan lebih sering ditekan ke dalam diri. Hal ini juga tidak sepenuhnya sehat, karena memendam emosi negatif dalam jangka waktu yang panjang dapat memicu berbagai penyakit fisik maupun gangguan psikologis.

Sementara itu, orang dengan self-esteem terlalu tinggi berusaha keras untuk menjaga balon mereka yang terlalu banyak diisi angin agar tidak meletus. Jika balon tersebut meletus, maka dapat diasumsikan bahwa tidak akan ada lagi self-esteem yang tersisa pada diri mereka. Dalam situasi nyatanya, orang dengan self-esteem terlalu tinggi sangat sensitif terhadap hal-hal yang mereka persepsikan dapat mengancam pencitraan diri mereka. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa orang yang menganggap dirinya adalah yang terbaik dibandingkan orang lain lebih mudah tersulut secara emosional dan mengungkapkan agresi secara terang-terangan. 

Ketika Self-Esteem Terancam

Berbagai situasi di mana self-esteem dapat terasa terancam adalah ketika kita mendapatkan nilai jelek, dikritik orang lain, melakukan kesalahan di depan orang lain, ditolak oleh orang lain, kalah dalam suatu kompetisi, dan tidak diterima di lingkungan sosial yang ingin kita masuki. Jika diperhatikan, contoh situasi yang disebutkan sangat umum kita temui dalam keseharian. Pada orang-orang dengan self-esteem yang tidak stabil, pemicu yang terkesan sepele seperti ini dapat memicu agresivitas, bahkan hingga level kriminal.

Pentingnya Membangun Self-Esteem yang Sehat

Tidak dapat dipungkiri bahwa penilaian kita terhadap diri sendiri sedikit-banyak dipengaruhi oleh penilaian orang lain terhadap kita. Namun, apabila kita terlalu menjadikan penilaian orang lain terhadap kita sebagai patokan self-esteem, yang terjadi adalah self-esteem akan menjadi tidak stabil tergantung bagaimana orang lain menilai kita. Ketika hal ini terjadi, bisa saja yang tadinya Anda cukup puas dengan pencapaianmu di tempat kerja, malah menjadi tidak percaya diri karena orang lain menilai pencapaian tersebut tidak sehebat rekan kerja yang lain. Yang tadinya Anda mengira nilai 88 sudah cukup bagus mengingat usaha yang dikerahkan untuk mencapai nilai tersebut, rasanya menjadi tidak berarti lagi ketika orang tua mengatakan nilai yang bagus adalah nilai 100 sempurna. 

Orang dengan self-esteem yang sehat dapat menilai diri dari sudut pandang yang realistis dan merasa percaya diri dengan adanya pencapaian yang nyata (tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi). Mereka sadar akan kekurangan diri, namun mereka juga menyadari memiliki kekurangan adalah hal yang sangat manusiawi. Mereka juga sadar akan kelebihan diri dan dapat menggunakannya dengan baik, tidak perlu dilebih-lebihkan agar terlihat makin hebat di depan orang lain. Saat orang lain memberikan kritik terhadap apa yang mereka kerjakan mungkin ada timbul rasa malu atau menyesal, namun mereka tahu bahwa dengan adanya kesalahan yang mereka lakukan bukan berarti mereka adalah orang yang gagal. Mereka dapat menanggapinya secara objektif, bahkan jika kritik tersebut bersifat konstruktif mereka akan menjadikannya sebagai dasar untuk refleksi dan pengembangan diri.

Pentingnya Melatih Anger Management

Muncul emosi marah karena kita merasa direndahkan, diperlakukan tidak adil, atau frustrasi dengan keadaan sangatlah manusiawi. Bahkan orang dengan self-esteem rendah sekalipun dapat merasa tidak nyaman jika diperlakukan demikian. Untungnya, manusia merupakan makhluk yang diberi akal pikiran dan memiliki pilihan bagaimana cara kita mempersepsikan dan menanggapi dunia di luar diri kita. Dengan kata lain, kemampuan mengelola marah bukan berarti Anda tidak merasakan marah sama sekali, melainkan Anda mampu menentukan respon apa yang paling tepat untuk mengungkapkan amarah yang dirasakan di situasi tersebut.

Sumber:

Smith, L. L. (2022). Anger management for dummies (3rd ed.). John Wiley & Sons, Inc.

Bagikan artikel ini

Posting Terbaru

Pustaka Mood Disosiasi (1)
Pustaka Mood Memahami Self harm (1)

Anda mungkin juga menyukainya

illustration right side 1
curhat line